03 Februari 2012

Apakah Benar Peringatan Maulid Rasulullah SAW Diperintahkan Allah SWT ?

Assalamu'alaikum wr wb.

Tulisan ini sengaja ditulis sesaat usai melaksanakan shalat Jum'at 03 Februari 2012 di Masjid Al Kautsar Kompleks Gramapuri - Cibitung. Kesengajaan ini berdasarkan rasa penasaran atas isi khutbah yang disampaikan oleh Sang Khatib. Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan Khatib dalam hal ini hanya ikhtiar  mencari titik terang maupun secercah kebenaran.

Beberapa saat sebelum waktu Jum'at masuk pengurus DKM membacakan maklumat tentang keuangan Masjid sebelumnya membacakan 4 buah undangan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dari pengurus Masjid dan Mushalla sekitar Cibitung. Begitu gegap gempitanya peringatan demi peringatan selama ini. 
Setelah wasiat taqwa, khatib langsung menyampaikan isi khutbahnya dengan tema "Hikmah Maulid Rasulullah SAW".

Ada tiga kejadian besar pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul tahun gajah menurut riwayat yaitu pertama, kelahiran Rasulullah SAW itu sendiri yang menandakan bahwa lahirnya seorang bayi dengan bercahayanya rahim Siti Aminah menerangi kota mekah dan bahkan sampai seluruh penjuru jazirah arab kala itu menandakan bahwa kelahiran Rasulullah SAW membawa cahaya Islam "Nur 'ala Nur" ke penjuru dunia. Kedua, peristiwa padamnya api keabadian Majusi yang menandakan telah datang ketauhidan yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang menandakan bahwa tidak ada keabadian kecuali Allah SWT. Ketiga, peristiwa robohnya dua gereja yang kokoh di bahira, yang menandakan bahwa Allah SWT sangat geram pada pernyataan bahwa Allah SWT mempunyai anak, bahwa Uzair adalah putra Allah SWT, bahwa Isa A.S adalah anak Allah SWT.

Dalam penyampaian isi khutbahnya sebelum mengakhiri khutbah pertama Khatib mengutip ayat 103 dari surat Ali Imran (QS. Ali Imran : 103) lalu beliau menafsirkannya.
QS. Ali Imran : 103
wai'tashimuu bihabli allaahi jamii'an walaa tafarraquu waudzkuruu ni'mata allaahi 'alaykum idz kuntum a'daa-an fa-allafa bayna quluubikum fa-ashbahtum bini'matihi ikhwaanan wakuntum 'alaa syafaahufratin mina alnnaari fa-anqadzakum minhaa kadzaalika yubayyinu allaahu lakum aayaatihi la'allakum tahtaduuna

Terjemahannya

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dalam menyampaikan tafsir ayat ini Khatib menitik beratkan pada "waudzkuruu ni'mata allaahi 'alaykum idz kuntum a'daa-an fa-allafa bayna quluubikum fa-ashbahtum bini'matihi ikhwaanan wakuntum 'alaa syafaahufratin mina alnnaari fa-anqadzakum minhaa (dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.)"

Khatib mengatakan bahwa berdasarkan ayat ini maka memperingati Maulid Nabi SAW adalah diperintahkan oleh Allah SWT, "dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu". Kelahiran Rasulullah SAW merupakan nikmat terbesar bagi umat islam karena dengan lahirnya beliau membawa Dinul Islam. huruf wawu (و)  pada pangkal nya adalah wawu a'thof yang menunjukkan kesinambungan dengan potongan ayat sebelumnya. Jadi dalam hal ini diperintahkan untuk "ingat-ingat nikmat Allah", "memperingati" Maulid Rasulullah SAW adalah menjalankan perintah Allah SWT. 

Selanjutnya khatib dengan tegas menyampaikan bahwa peringatan Maulid Rasulullah SAW bisa menjadi bid'ah kalau di dalam pelaksanaannya sudah diisi dengan hal-hal maksiat serta jauh dari esensi mensyukuri nikmat, misalnya nyanyi-nyanyian oleh kaum wanita dengan menampakkan auratnya, sengaja mengundang Ustadz kondang bahkan seorang artis dengan tarif yang berjuta-juta yang piawai dalam guyon sehingga ceramahnya hanya berisi tawa canda saja, sementara masih banyak orang miskin yang membutuhkan uluran bantuan di sekitar Masjid.

Sejenak saya tertegun mendengar penjelasan Khatib dalam menafsirkan ayat ini, saya berfikir untuk mencari tahu lebih jauh tafsir sebenarnya melalui kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh ulama tafsir yang mashur.  Bila benar memperingati Maulid Nabi SAW adalah perintah Allah SWT yang berarti menjadi "WAJIB" dengan  Fiil Amar  "uzkuruu"...  maka sangat mungkin para Sahabat yang paling dekat kehidupannya dengan Rasulullah SAW dan mengetahui dengan baik sebab turunnya Ayat tersebut karena hidup di zaman Rasulullah SAW, merekalah yang lebih dahulu mencontohkannya.. akan tetapi tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Para Sahabat setiap tahun mengadakan peringatan terhadap hari kelahiran Rasulullah SAW baik saat Rasulullah SAW masih hidup maupun setelah beliau wafat.

Alangkah tidak ahsan rasanya bila kita menafsirkan Al-Qur'an berdasarkan logika saja, mestinya ada rujukan sahih dari mempelajari Asbabun Nuzul, maupun munasabah dan hadist-hadist terkait dengan penjelasan tafsir ayat tersebut. Ilmu tafsir erat sekali dengan ilmu-ilmu pendukung Ulumul Qur'an seperti ilmu Nahwu dan Sharf, Ilmu Balaghah, Ilmu Hadist, Asbab An Nuzul  dsb, Sehingga tidak terkesan membenarkan sesuatu yang memang tidak ada landasannya dalam Islam. Na'uzubillahi min zaa lik,. 

Saat ini saya masih berikhtiar untuk terus belajar dan mencari tafsir QS. Ali Imran : 103 tersebut dari berbagai sumber untuk menjawab pertanyaan yang saya tampilkan sendiri pada judul tulisan ini.  Adakah sahabat pembaca yang mempunyai rujukannya ... ?  Saya sangat ingin mengetahuinya agar ilmu yang kita dapatkan mempunyai dasar yang sahih. Beramal tanpa ilmu sepertinya hampa dan tidak berfaedah. Terlebih dari itu agar kita tidak terjebak (terhindar) pada metode penafsiran Al Qur'an secara logika bebas, sehingga bisa mengelabui orang lain dengan senjata kaidah-kaidah bahasa arab.

Dari Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, "Wahai Sa'id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?", lalu Sa'id menjawab :"Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah"
[SHAHIH. HR Baihaqi dalam "As Sunan Al Kubra" II/466, Khatib Al Baghdadi dalam "Al Faqih wal mutafaqqih" I/147, Ad Darimi I/116].

Wassalam

2 comments: