10 September 2012

Kebahagiaan Setiap Orang Ibarat Lingkaran

Assalamu'alaikum,

Malam 25 Ramadhan 1433 H, saya sampai Masjid Al-Azhar Jaka Permai, Kalimalang Bekasi menjelang waktu Isya masuk. Setelah menyempurnakan wudhu lalu bergegas ke dalam Masjid melanjutkan tadarus bersama jamaah i'tikaf yang memang sudah meramaikan Masjid ini semenjak hari 20 Ramadhan.
Memasuki Masjid seketika kita akan mendengar suara dengungan bak kawanan lebah madu. Setiap karpet penanda shaff  terisi sampai 60% oleh mu'takifin yang bertadarus. Suasananya begitu sakral, beberapa ada yang terlihat  tiba-tiba bersujud tilawah menandakan bahwa ia sudah sampai pada salah satu ayat sajadah. Beberapa lagi terlihat sesegukan dan sesekali menyeka air mata. Sebagian terlihat ada yang memilih berzikir khusyu'. Benar-benar perlombaan berbuat kebaikan.

Baru  saja menyelesaikan satu setengah lembar bacaan, Mu'adzin mengumandangkan azan pertanda masuknya waktu 'Isya, tanpa komando semua berhenti bertadarus keadaan hening sejenak, terlihat sebagian ada yang bergegas memperbarui wudhu, namun lebih banyak yang masih bertahan mendengar azan dan bersahutan menjawab sampai azan selesai, sungguh suasana beragama yang indah di Masjid yang nyaman. Pemandangan seperti ini membuat diri ini lebih bersemangat untuk   mengikuti sesi i'tikaf malam ini di tempat ini.

Shalat 'Isya pun didirikan dengan suara agak serak, Imam tetap fasih melantunkan ayat-ayat pada Juz 25. Imam yang hafidz, suara yang merdu menambah rasa khusyu' makmum yang mengikuti di belakangnya.
Sebelum Shalat Tarawih, Seorang Ustadz tampil membawakan kultum yang penuh hikmah. Karena tidak membawa catatan saya berusaha keras untuk mengingatnya.

Ustadz yang saya tidak ingat nama beliau memaparkan :
Di setiap do'a kita sering menutup dengan permohonan akan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena memang kita membutuhkan rasa bahagia.

"Sebuah analogi. Ada seseorang yang mencari kunci rumahnya di luar rumah, padaha ia lupa bahwa sebenarnya kunci tersebut ia simpan di dalam rumahnya. Lalu datanglah seseorang temannya yang mengingatkan bahwa kunci yang dicarinya ada di dalam rumahnya sendiri.

Nah, begitulah halnya dengan "kebahagiaan". Sebenarnya setiap kita punya kebahagiaan di dalam diri kita masing-masing, sehingga kita tidak perlu mencari kebahagiaan itu pada orang lain.
Rasa bahagia itu sama pada setiap orang ibarat sebuah benda berbentuk lingkaran. Lingkaran, seberapa pun besarnya namun derajatnya sama-sama 360 Derajat.


Illustrasi Lingkaran
 sumber : en.wikimedia.org

Rasa bahagia orang kaya, sama dengan rasa bahagia yang dirasakan oleh kaum dhuafa dalam hal derajat rasa. Bayangkan rasa bahagianya orang dhuafa yang ketika suatu hari mereka dapat tercukupinya semua kebutuhannya untuk satu hari itu saja. Mereka puas dan bahkan sangat bersyukur.

Tentu saja yang membedakan lingkaran itu adalah besarnya radius atau jari-jari lingkaran. Makin besar radius maka semakin besar pula kelihatan lingkarannya, namun tetap 360 derajat. Tips agar lingkaran kebahagiaan terasa besar adalah Bersyukur, ikhlas dan qonaah dapat mempengaruhi besar kecilnya radius kebahagiaan. Amal shaleh akan membuat lingkaran bahagia tersebut berputar dinamis, ketaqwaan akan membuatnya tetap bulat simetris."

Kiranya itulah yang saya tangkap  dari pemaparan Ustadz malam itu. Selepas tarawih berjamaah, I'tikaf berlanjut sampai 1 jam sebelum waktu imsak masuk.

Rabbana Aatina Fid dunya Hasanah wa Fil Aakhiraati Hasanah Wa Qinaa 'Azaa bannaar...

Wassalam





2 comments: