Mari memahami perbedaan antara isim Mu’rab dan Mabni dengan analogi sederhana, contoh Arab, dan ciri praktisnya. Cocok bagi pemula yang belajar Nahwu.
Bayangkan Anda punya satu orang teman. Saat acara resmi, ia memakai jas. Saat olahraga, ia memakai kaos. Saat santai, ia memakai sarung. Orangnya sama, pakaiannya berubah sesuai acara.
Itulah gambaran Isim Mu’rab.
Isim Mu’rab adalah isim yang harakat huruf akhirnya berubah karena perbedaan amil atau kedudukannya dalam kalimat.
Contoh:
جَاءَ زَيْدٌ — Zaid datang.
Zaidun menjadi fa’il, akhirnya dhammah.رَأَيْتُ زَيْدًا — Saya melihat Zaid.
Zaidan menjadi maf’ul bih, akhirnya fathah.مَرَرْتُ بِزَيْدٍ — Saya melewati Zaid.
Zaidin didahului huruf jar, akhirnya kasrah.
Kata زَيْد tetap sama. Yang berubah adalah harakat akhirnya karena amil yang masuk.
Sekarang bandingkan dengan Isim Mabni.
Isim Mabni adalah isim yang akhir katanya tetap, tidak berubah karena amil.
Analoginya seperti seragam sekolah: dipakai di kelas, di lapangan, atau saat upacara, modelnya tetap.
Contoh:
هَذَا كِتَابٌ — Ini buku.
رَأَيْتُ هَذَا — Saya melihat ini.
نَظَرْتُ إِلَى هَذَا — Saya melihat ke ini.
Bentuk هَذَا tetap. Kedudukannya boleh berbeda, tetapi akhir katanya tidak berubah.
Ciri praktis:
Mu’rab: akhir kata berubah sesuai amil.
Mabni: akhir kata tetap.
Mayoritas isim Mu’rab.
Dhamir, isim isyarah, isim maushul, dan isim istifham umumnya Mabni.
0 comments:
Posting Komentar