Mencari Cahaya dari Masjid ke Masjid perjalanan mengumpulkan bekal

29 Agustus 2026

Membangun Peradaban Malalui Empat Dimensi Kemanusiaan dalam Pendidikan

Mengelola Empat Dimensi Kemanusiaan dalam Pendidikan: Fitrah, Akal, Qalb, dan Nafs


Oleh : Yulef Dian, S.T., M.Kom



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi Rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ilmu, kesehatan, dan kesempatan untuk terus menjalankan amanah dalam kehidupan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Amma ba'du.

Bapak dan Ibu yang saya hormati, rekan-rekan sejawat, para pendidik dan tenaga kependidikan yang dirahmati Allah SWT.


Di tengah kesibukan kita menjalankan berbagai aktivitas akademik—menyusun kurikulum, mengajar mahasiswa, melakukan penelitian, melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, mengelola administrasi, mengejar target kinerja, dan membangun institusi—ada satu pertanyaan mendasar yang perlu sesekali kita renungkan:

Sebenarnya, manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?

Karena sesungguhnya pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan lulusan yang cerdas.

Pendidikan bukan sekadar menghasilkan mahasiswa yang mampu menggunakan teknologi.

Bukan hanya menghasilkan lulusan yang memiliki IPK tinggi.

Dan bukan pula sekadar menghasilkan tenaga kerja yang siap memasuki dunia industri.

Lebih dari itu, pendidikan adalah proses membangun manusia secara utuh.

Manusia yang memiliki arah hidup.

Manusia yang mampu berpikir.

Manusia yang memiliki hati.

Dan manusia yang mampu mengendalikan dirinya.

Dalam perspektif Islam, kita dapat merenungkan manusia melalui beberapa dimensi penting, di antaranya:

Fitrah, Akal, Qalb, dan Nafs.

Empat dimensi inilah yang, apabila dikelola dengan baik, dapat melahirkan manusia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beriman, berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu membangun peradaban.

1. FITRAH: MENJAGA ARAH DASAR MANUSIA

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah,

Dimensi pertama adalah fitrah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

QS. Ar-Rum [30]: 30.

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Artinya:

“Tidaklah setiap anak yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan di atas fitrah.”

HR. Muslim .

Bapak dan Ibu,

Fitrah dapat kita pahami sebagai potensi dasar yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Manusia diciptakan bukan tanpa arah.

Di dalam dirinya terdapat potensi untuk mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, dan mencari makna kehidupan.

Namun persoalannya adalah:

Potensi itu bisa tertutup oleh lingkungan, kebiasaan, kepentingan, dan godaan kehidupan.

Di sinilah pendidikan memiliki peran yang sangat besar.

Kita bukan sekadar mengisi kepala mahasiswa dengan informasi.

Kita juga memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka menemukan arah hidup.

Karena seorang mahasiswa mungkin saja sangat cerdas, tetapi kehilangan arah.

Ia mungkin menguasai teknologi, tetapi tidak memahami tanggung jawab.

Ia mungkin memiliki kompetensi tinggi, tetapi kehilangan integritas.

Ia mungkin berhasil secara profesional, tetapi gagal memahami tujuan hidup.

Maka tugas pendidikan bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjaga arah manusia.

Dan pertanyaan ini juga berlaku untuk kita sebagai pendidik:

Apakah kesibukan kita hari ini masih berada dalam arah yang benar?

Apakah jabatan membuat kita semakin rendah hati?

Apakah ilmu membuat kita semakin dekat kepada Allah?

Apakah kesibukan membuat kita semakin bermanfaat bagi manusia?

Karena terkadang seseorang tidak kehilangan kemampuan.

Yang hilang adalah arah.

2. AKAL: ILMU HARUS MELAHIRKAN KEHIKMAHAN

Dimensi kedua adalah akal.

Allah SWT berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.”

Kemudian Allah menjelaskan:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya:

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

QS. Ali 'Imran [3]: 190–191.

Bapak dan Ibu yang berbahagia,

Inilah menariknya Islam.

Islam tidak memisahkan ilmu dan iman.

Orang yang berakal bukan hanya orang yang banyak berpikir.

Tetapi ia adalah orang yang menggunakan pikirannya untuk memahami kehidupan dan mengambil pelajaran.

Dalam dunia akademik, kita sangat menghargai kecerdasan.

Kita mengembangkan kompetensi.

Kita melakukan penelitian.

Kita menganalisis data.

Kita mengembangkan inovasi.

Semua itu sangat penting.

Tetapi ada satu pertanyaan:

Untuk apa kecerdasan itu digunakan?

Karena akal yang cerdas tanpa nilai dapat digunakan untuk menipu.

Ilmu tanpa akhlak dapat digunakan untuk merugikan.

Teknologi tanpa tanggung jawab dapat menjadi ancaman.

Dan jabatan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi alat kesombongan.

Maka pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang pintar.

Pendidikan harus menghasilkan manusia yang bijaksana.

Di sinilah perbedaan antara memiliki pengetahuan dan memiliki hikmah.

Mahasiswa kita harus belajar berpikir kritis.

Tetapi mereka juga harus belajar berpikir benar.

Mereka harus belajar memecahkan masalah.

Tetapi juga memahami dampak dari solusi yang mereka pilih.

Karena tujuan tertinggi pendidikan bukan sekadar:

“Saya tahu banyak.”

Tetapi:

“Saya menggunakan ilmu untuk menghadirkan kemaslahatan.”

3. QALB: HATI ADALAH PUSAT INTEGRITAS DAN AKHLAK

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah,

Dimensi ketiga adalah qalb, yaitu hati.

Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat mendalam:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

HR. Bukhari No. 52.

Hadis ini sangat relevan dalam kehidupan akademik.

Karena banyak persoalan dalam sebuah institusi sebenarnya bukan bermula dari kurangnya kecerdasan.

Bukan karena kurangnya sistem.

Bukan pula selalu karena kurangnya teknologi.

Tetapi terkadang persoalan terbesar adalah persoalan hati.

Ketika hati dipenuhi keikhlasan, pekerjaan menjadi ibadah.

Ketika hati dipenuhi tanggung jawab, amanah akan dijaga.

Ketika hati dipenuhi kasih sayang, mahasiswa akan diperlakukan dengan manusiawi.

Tetapi ketika hati dipenuhi iri, maka keberhasilan orang lain menjadi masalah.

Ketika hati dipenuhi kesombongan, maka nasihat terasa sebagai ancaman.

Ketika hati dipenuhi kepentingan pribadi, maka amanah dapat berubah menjadi alat untuk mencari keuntungan.

Maka dalam dunia pendidikan, kita membutuhkan bukan hanya SDM yang kompeten.

Kita membutuhkan SDM yang memiliki hati.

Pendidik yang mengajar bukan hanya karena kewajiban.

Tetapi karena menyadari bahwa setiap mahasiswa adalah manusia yang sedang tumbuh.

Tenaga kependidikan yang melayani bukan sekadar menyelesaikan prosedur.

Tetapi menyadari bahwa pelayanan yang baik adalah bagian dari akhlak.

Pemimpin yang memimpin bukan sekadar menggunakan kekuasaan.

Tetapi menggunakan amanah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Karena pada akhirnya:

Institusi yang besar bukan hanya dibangun oleh gedung yang besar.

Institusi yang kuat bukan hanya dibangun oleh sistem yang canggih.

Tetapi juga dibangun oleh hati-hati yang bersih dan niat-niat yang baik.**

4. NAFS: ENERGI YANG HARUS DIARAHKAN

Bapak dan Ibu sekalian,

Dimensi keempat adalah nafs, atau dorongan dalam diri manusia.

Kita sering memahami nafsu hanya sebagai sesuatu yang buruk.

Padahal dalam kehidupan manusia terdapat berbagai dorongan, keinginan, ambisi, dan kecenderungan yang harus dikelola.

Masalahnya bukan sekadar apakah kita memiliki dorongan.

Tetapi:

Siapa yang mengendalikan dorongan itu?

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

Artinya:

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

QS. Yusuf [12]: 53.

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya kesadaran diri.

Kita semua memiliki ego.

Kita semua memiliki ambisi.

Kita semua ingin dihargai.

Kita semua ingin berhasil.

Tetapi tanpa pengendalian diri, ambisi dapat berubah menjadi keserakahan.

Keinginan untuk dihargai dapat berubah menjadi kesombongan.

Keinginan untuk berhasil dapat berubah menjadi persaingan yang tidak sehat.

Dalam lingkungan akademik, nafs harus diarahkan menjadi energi positif:

Menjadi semangat untuk belajar.

Menjadi motivasi untuk berprestasi.

Menjadi dorongan untuk berinovasi.

Menjadi semangat untuk memberikan pelayanan terbaik.

Tetapi semuanya harus berada dalam kendali iman, akal, dan hati.

Tujuan akhirnya bukanlah manusia yang kehilangan semangat.

Melainkan manusia yang memiliki jiwa yang tenang dan terkendali.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

Artinya:

“Wahai jiwa yang tenang.”

Kemudian Allah berfirman:

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Artinya:

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”

QS. Al-Fajr [89]: 27–28.

Inilah salah satu tujuan besar pendidikan manusia:

Bukan hanya manusia yang sukses.

Tetapi manusia yang memiliki ketenangan jiwa.

Bukan hanya manusia yang berprestasi.

Tetapi manusia yang mampu mengendalikan dirinya.

EMPAT DIMENSI, SATU TUJUAN: MEMBANGUN MANUSIA SEUTUHNYA

Bapak dan Ibu yang saya hormati,

Jika kita renungkan, keempat dimensi ini saling berkaitan.

Fitrah memberikan arah.

Akal memberikan kemampuan berpikir.

Qalb memberikan kepekaan moral dan spiritual.

Nafs memberikan energi dan dorongan.

Ketika fitrah kehilangan arah, manusia bisa tersesat.

Ketika akal tidak dibimbing nilai, kecerdasan dapat disalahgunakan.

Ketika hati rusak, ilmu kehilangan keberkahan.

Ketika nafs tidak dikendalikan, manusia dapat dikuasai oleh egonya.

Tetapi ketika semuanya berjalan secara harmonis, lahirlah manusia yang utuh.

Manusia yang:

beriman dalam orientasinya,

cerdas dalam berpikirnya,

bersih dalam hatinya,

dan kuat dalam mengendalikan dirinya.

Dan inilah sesungguhnya fondasi sebuah peradaban.


PENDIDIKAN BUKAN HANYA MEMBANGUN KARIER, TETAPI MEMBANGUN PERADABAN

Bapak dan Ibu sekalian,

Kita mungkin merasa bahwa pekerjaan kita hari ini sederhana.

Mengajar satu kelas.

Membimbing seorang mahasiswa.

Melayani satu urusan administrasi.

Memberikan satu nasihat.

Membantu menyelesaikan satu persoalan.

Tetapi jangan pernah meremehkan pekerjaan pendidikan.

Karena kita mungkin tidak sedang melihat hasilnya hari ini.

Namun kita sedang menanam sesuatu yang akan tumbuh bertahun-tahun kemudian.

Mahasiswa yang hari ini kita ajar, suatu hari mungkin menjadi:

pemimpin,

pengusaha,

programmer,

tenaga profesional,

pendidik,

atau pengambil kebijakan.

Dan sebagian nilai yang kita tanam hari ini mungkin akan ikut membentuk keputusan mereka di masa depan.

Oleh karena itu, pekerjaan pendidikan sesungguhnya bukan hanya membangun individu.

Pendidikan sedang membangun masa depan masyarakat.

Dan ketika kita mendidik manusia dengan benar,

kita sesungguhnya sedang membangun peradaban dari dalam.

Allah SWT mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

QS. Al-Hasyr [59]: 18.

Ayat ini sangat relevan untuk kita.

Mari sesekali bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sedang kita siapkan untuk hari esok?

Apa yang sedang kita tanam dalam diri mahasiswa?

Apakah kita hanya mengejar angka?

Ataukah kita juga membangun karakter?

Apakah kita hanya membangun kompetensi?

Ataukah kita juga membangun integritas?

Apakah kita hanya mencetak lulusan?

Ataukah kita sedang membentuk manusia?


PENUTUP

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah SWT,

Mari kita jadikan pertemuan akademik, pekerjaan, dan seluruh aktivitas kita bukan sekadar rutinitas.

Mari kita lihat setiap amanah sebagai bagian dari proses membangun manusia.

Mari kita jaga fitrah, agar hidup memiliki arah.

Mari kita gunakan akal, agar ilmu menghadirkan hikmah.

Mari kita bersihkan qalb, agar pekerjaan kita penuh keikhlasan dan integritas.

Dan mari kita kendalikan nafs, agar ambisi kita menjadi energi untuk menghadirkan kebaikan.

Karena sesungguhnya:

Peradaban tidak runtuh pertama kali karena kekurangan teknologi.

Peradaban tidak selalu runtuh karena kurangnya kecerdasan.

Tetapi peradaban dapat melemah ketika manusia kehilangan arah, kehilangan hati, dan kehilangan kemampuan mengendalikan dirinya.

Maka mari kita mulai membangun peradaban itu dari tempat yang paling dekat:

dari diri kita sendiri.

Dari cara kita berpikir.

Dari cara kita memperlakukan orang lain.

Dari cara kita menjalankan amanah.

Dan dari cara kita mendidik generasi yang Allah titipkan kepada kita.

Semoga Allah SWT menjadikan kita insan yang tetap berada di atas fitrah-Nya, diberikan kecerdasan yang membawa manfaat, hati yang bersih, dan jiwa yang mampu mengendalikan diri.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imama.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


10 Maret 2026

Konsep Khutbah Idul Fitri Terbaik dan Menyentuh Hati

 

Konsep Khutbah Idul Fitri Terbaik dan Menyentuh Hati


1. Hakikat Kembali kepada Fitrah dan Makna Kemenangan

Konsep ini menekankan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan baju baru atau hidangan melimpah, melainkan momentum untuk kembali ke kesucian hati. Kemenangan sejati diukur dari sejauh mana Ramadhan berhasil mengubah karakter seseorang menjadi pribadi yang lebih jujur, sabar, dan peduli. Jamaah diajak merenungkan apakah "latihan" selama sebulan penuh akan ikut pergi bersama berakhirnya Ramadhan, atau tetap terjaga dalam bentuk ketaatan yang konsisten.

2. Berbakti kepada Orang Tua: Konsep yang Paling Menyentuh

Salah satu tema yang paling menggetarkan hati adalah pesan tentang memuliakan orang tua. Khutbah ini mengajak jamaah untuk:

  • Segera menemui dan memeluk orang tua selagi mereka masih hidup, tanpa menunda-nunda.

  • Meminta maaf atas segala kekhilafan yang pernah melukai hati mereka.

  • Bagi yang orang tuanya telah tiada, momentum ini digunakan untuk mendoakan dan melanjutkan amal jariyah atas nama mereka.

  • Mengingat kembali perjuangan orang tua yang membesarkan anak dengan penuh kasih sayang merupakan cara paling efektif untuk menyentuh perasaan jamaah.

3. Kekuatan Maaf dan Kebersihan Hati

Memaafkan bukan sekadar formalitas bibir, tetapi ibadah untuk membersihkan hati dari dendam dan prasangka. Khutbah terbaik sering mengangkat isu "gengsi" dalam meminta maaf, di mana setiap orang menunggu orang lain memulai duluan. Konsep ini menegaskan bahwa orang yang mudah memaafkan menunjukkan kekuatan iman dan kedewasaan hati, serta menjadi jalan bagi turunnya ampunan Allah. Idul Fitri harus dijadikan garis start untuk memperbaiki hubungan yang renggang dengan keluarga, tetangga, dan rekan kerja.

4. Refleksi Perpisahan dengan Ramadhan dan Kematian

Konsep ini sering membuat jamaah menangis karena menyentuh sisi emosional tentang ketidakpastian masa depan. Poin utamanya meliputi:

  • Rasa sedih melepas Ramadhan: Apakah amalan kita diterima? Apakah kita akan dipertemukan lagi dengan bulan suci tahun depan?.

  • Mengingat kematian: Mengingatkan jamaah bahwa dunia hanyalah tempat ujian yang sementara. Kematian adalah kepastian, sehingga sisa umur harus digunakan untuk memperbanyak amal saleh dan perbaikan diri.

  • Rindu pada mereka yang telah pergi: Mendoakan keluarga atau sahabat yang pada lebaran tahun lalu masih bersama, namun kini telah beristirahat di alam kubur.

5. Istiqamah dan Tanggung Jawab Sosial

Khutbah yang inspiratif mengajak umat untuk menjaga api iman tetap menyala setelah Ramadhan berlalu. Konsep ini meliputi:

  • Istiqamah: Melanjutkan kebiasaan baik seperti shalat tepat waktu, tilawah Al-Qur'an, dan sedekah meskipun dalam jumlah kecil.

  • Kepedulian Sosial: Menegaskan bahwa Islam adalah agama yang berdampingan antara ibadah kepada Tuhan dan kepedulian kepada manusia. Zakat fitrah adalah simbol agar tidak ada saudara yang merasa lapar atau sedih di hari kemenangan.

  • Tanggung Jawab Lingkungan: Umat Islam diingatkan untuk menjadi wakil Allah di bumi dengan menjaga kebersihan dan tidak merusak alam (Islam Wasathiyyah).

6. Struktur Khutbah yang Baik

Agar pesan tersampaikan dengan kuat, khutbah sebaiknya mengikuti tata cara syariat:

  1. Pembukaan: Membaca tahmid (Alhamdulillah), shalawat Nabi, dan wasiat takwa.

  2. Isi: Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, didukung dalil Al-Qur'an/Hadis, dan mengangkat tema yang relevan dengan kondisi umat.

Penutup: Diakhiri dengan doa yang tulus untuk memohon ampunan dan keberkahan bagi seluruh kaum muslimin.

20 November 2020

MTQ Nasional XXVIII 2020 Sumatera Barat




Assalamu'alaikum Wr Wb.


Hari Ahad, 15 November 2020  setelah berolah raga sejenak di GOR H. Agus Salim,  saya menyempatkan diri berjalan-jalan ke Masjid Raya Sumatera Barat yang berada tidak begitu jauh dari GOR tepatnya diujung Jl. Khatib Sulaiman Padang. Ternyata di sana menjadi salah satu venue utama kegiatan MTQ Nasional XXVIII 2020 Sumatera Barat. 

Ketika sampai di pelataran Masjid Raya kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, saya pun  memarkirkan kendaraan di halaman depan Masjid yang ternyata tepat di depan deretan kantor Sekretariat Panitia MTQ Nasional XXVIII 2020. Kantor Sekretariat berada di tengah diapit oleh kantor LPTQ Sumatera Barat sebelah kirinya dan Media Center MTQ N Ke-28 bersama kantor BAZNAS di sebelah kanan.  

Karena memang sebelumnya saya hanya menerima informasi terbatas dari baliho yang terpasang tentang kegiatan MTQ Nasional ke-28 ini, maka  saya mencoba mencari  informasi lebih di Sekretariat. Di depan Kantor Sekretariat rupanya sudah dipasang papan-papan informasi. Saya mengambil beberapa foto informasi kegiatan. Setelah membuka  Website official MTQ Nasional XXVIII 2020 saya menemukan informasi yang lebih lengkap. MTQ N kali ini bertema  "DENGAN MTQ NASIONAL KITA MEWUJUDKAN SDM YANG UNGGUL, PROFESIONAL DAN QUR'ANI MENUJU INDONESIA MAJU"

 

Depan Sekretarian MTQ Nasional XXVIII 2020

 

Media Center Tempat Konferensi Pers  



Wall of Fame yang terpasang di depan Sekretariat LPTQ Sumbar



Informasi Jadwal Pelaksanaan MTQN XXVIII 2020

Sayup-sayup terdengar suara lantunan tilawah yang merdu dari peserta MTQ N XXVIII, saya bertanya kepada salah seorang petugas Masjid, darimana asalnya sumber suara sekaligus lokasi panggung utama, petugas mengarahkan saya menuju ke halaman belakang Masjid, saya pun bergegas menuju sumber suara.

Masya Allah..wal Alhamdulillah   di halaman belakang saya melihat panggung tilawah dan tenda kafilah di depan panggung. Sesekali terdengar suara MC memanggil peserta MTQ N Cabang  Tilawah diselingi  penampilan Qori dan Qoriah. Ketika menuju tenda saya sempat berpapasan dengan seorang sahabat, beliau senior saya saat kuliah yang sedang mempersiapkan peralatan media liputan kegiatan, dari informasi beliau pulalah kemudian informasi video streaming saya dapatkan.

Saya berusaha menuju tenda penonton yang menghadap panggung/ mimbar tilawah dan menyaksikan sejenak berlangsungnya kegiatan babak penyisihan.

Posisi Mimbar Tilawah MTQ Nasional XXVIII 2020


Menyaksikan Penampilan Qori dan Qoriah dari tenda depan

Sebagai orang yang sangat hobi mempelajari Tilawah Al Qur'an, merasa sangat bersyukur dan merasa sangat beruntung sekali bisa menyaksikan secara langsung kegiatan MTQ Nasional sebagai mana yang diidamkan sejak lama.  Ada beberapa catatan yang dapat saya rangkum dalam helatan MTQ Nasional kali ini. 

Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional kali ini dilakukan pada masa pandemi COVID-19  dengan memberlakukan protokol kesehatan dalam rangka mencegah penularan dan penyebaran wabah. Himbauan mematuhi protokol kesehatan ini selalu diingatkan oleh MC pada saat acara berlangsung. Kemungkinan inilah penyebab utama kenapa hinggar binggar acara MTQ Nasional ini kurang begitu terasa. Tidak ada mobilisasi massa besar untuk memeriahkan acara. Panggung-panggung dibuat mengikuti protokol kesehatan. 

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyiapkan 33 Hotel  yang disiapkan untuk menampung kafilah MTQN  berjumlah 2211 orang dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 12 Venue pelaksanaan kegiatan MTQ Nasional ke-28.   

23 jenis lomba dari 6  Cabang   yang diperlombakan yaitu Cabang Tilawah  Al Qur'an, Hifdzil Qur'an, Tafsir Al Qur'an, Fahmil Qur'an, Syahril Qur'an dan Khat Al Quran. Adapun golongan yang dilombakan pada masing-masing cabang adalah sebagai berikut : 

Cabang Tilawah Al-Quran  

  • Golongan Tartil
  • Golongan Anak-anak
  • Golongan Qira'at Sab'ah Murattal Remaja
  • Golongan Disabilitas Netra
  • Golongan Qira'at Sab'ah Mujawwad Dewasa
  • Golongan Qira'at Sab'ah Murattal Dewasa

Cabang Hifdzil Qur'an

  • Golongan 1 Juz dan Tilawah
  • Golongan 5 Juz dan Tilawah
  • Golongan 10 Juz
  • Golongan 20 Juz
  • Golongan 30 Juz

Cabang Tafsir Al Quran

  • Golongan Tafsir Bahasa Arab
  • Golongan Tafsir Bahasa Indonesia
  • Golongan Tafsir Bahasa Inggris

Cabang Fahmil Quran

  • Beregu Putra dan Putri

Cabang Syahril Quran

  • Beregu Putra dan Putri

Cabang Khat Al Quran

  • Golongan Naskah
  • Golongan Hiasan Mushaf
  • Golongan Dekorasi 
  • Golongan Kontemporer

Dari cabang-cabang tersebut, hari ini saya mendapatkan kabar bahwa kafilah Sumatera Barat menempatkan 23 orang peserta sebagai finalis yang tersebar di seluruh cabang. Semoga Sumatera Barat bisa juara umum.

Tadi malam, 19 November 2020, Saya bersama istri tercinta "Helma Sastria" menyaksikan babak final Cabang Tilawah Dewasa yang disiarkan secara virtual melalui live streaming di facebook. Ada 3 Qori dan 3 Qoriah sebagai finalis  MTQ Nasional XXVIII 2020 di Masjid Raya Sumatera Barat. Para finalis babak Final Tilawah Dewasa adalah :

Qoriah : 1. No. Peserta : TQ 401 Nama : Lutpiatun Nisa Asal : Propinsi Jambi Ayat : QS. (36) Yasin : 13 - 21 Komposisi Lagu : Bayyati - Sikah - Nahawand - Jiharaka 2. No. Peserta : TQ 415 Nama : Umiyati Usman, S. Pd Asal : Propinsi Maluku Ayat : QS. Al Mukmin (Ghaafir) : 21 - 26 Komposisi Lagu : Bayyati - Nahawand - Rast - Shaba 3. No. Peserta : TQ 407 Nama : Rofiatul Muna Asal : Propinsi Jawa Timur Ayat : QS. (38) Shaad : 15 - 24 Komposisi Lagu : Bayyati - Sikah - Nahawand - Jiharaka Qori : 1. No. Peserta : TQ 408 Nama : H. Dasrizal, S.Si, M.I.S Asal : Propinsi Sumatera Barat Ayat : QS. (3) Ali Imran : 64 - 67 Komposisi Lagu : Bayyati - Nahawand - Rast - Shaba 2. No. Peserta : TQ 430 Nama : Muhamad Mas'ud Asal : Propinsi Jawa Tengah Ayat : QS. (40) Al Mukmin (Ghaafir) : 1 - 8 Komposisi Lagu : Bayyati - Rast - Sikah - Jiharaka 3. No. Peserta : TQ 407 Nama : Ilham Mahmuddin Asal : Propinsi DKI Jakarta Ayat : QS. (2) Al Baqarah : 254 - 257  
Komposisi Lagu : Bayyati - Hijaz - Jiharaka - Rast    


** Update  : 

Setelah mentaksikan acara penutupan MTQ Nasional XXVIII Sumatera Barat 2020 pada hari Jumat  20 November 2020, sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Hakim bahwa telah ditentukan Juara untuk Cabang Tilawah Dewasa. 

SK Dewan Hakim lengkap dapat di download  di sini

https://drive.google.com/file/d/1nm02tn5LloxPvNTZd_Io0lp25o9w528q/view?usp=drivesdk


Qori Terbaik I  :  Ilham Mahmuddin ( DKI Jakarta) 

Qori Terbaik II : Dasrizal ( Sumatera Barat) 

Qori Terbaik III : Muhamad Mas'ud  (Jawa Tengah) 

Qoriah Terbaik I : Rofiatul Muna ( Jawa Timur) 

Qoriah Terbaik II : Lutpiatun Nisa ( Jambi) 

Qoriah Terbaik III : Umiyati Usman  ( Maluku) 


Dan sebagai Juara Umum MTQ Nasional XXVIII 2020 jatuh kepada tuan rumah  Propinsi Sumatera Barat.  Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Hakim MTQ Nasional XXVIII 2020 Nomor 03/Kep.DH./MTQN-XXVIII/2020 tentang Penetapan Juara Umum dan Peringkat 10 Besar MTQ Nasional ke-28 Tahun 2020 di Kota Padang. 

Adapun peringkat 10 besar tersebut adalah :

1. Propinsi Sumatera Barat (Juara Umum) 

2. Propinsi DKI Jakarta

3. Propinsi Jawa Timur

4. Propinsi Jawa Barat

5. Propinsi Kepulauan Riau

6. Propinsi Sumatera Utara

7. Propinsi Banten

8. Propinsi Riau

9. Propinsi Nusa Tenggara Barat

10. Propinsi Kalimantan Barat. 


Sementara itu, Insta Allah Propinsi Kalimantan Selatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ Nasional XXIX 2022.





*** Berikut Video Babak Final MTQ Nasional XXVIII 2020 Sumatera Barat Cabang Tilawah Dewasa